Jakarta, BSSN.go.id – Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Republik Indonesia menyambut baik dibentuknya Tim Tanggap Insiden Keamanan Siber Kementerian Luar Negeri yang merupakan kolaborasi dan sinergitas di sektor pemerintah.

 Mewakili Kepala BSSN, Deputi III Bidang Penanggulangan dan Pemulihan Yoseph Puguh Eko Setiawan menuturkan dengan dibentuknya Tim Tanggap Insiden Keamanan Siber atau Computer Security Incindent Response Team (CSIRT) Kementerian Luar Negeri dengan nama Kemlu-CSIRT, ini dapat membentuk ruang siber Kementerian Luar Negeri yang aman dan kondusif.

“Tentunya kami siap mendukung pelaksanaan tugas dan fungsi Kementerian Luar Negeri,” katanya usai menghadiri peresmian Kemlu-CSIRT secara virtual dari Ruang Pertemuan National Command Centre BSSN di Jakarta, Senin (28/12/2020).

Yoseph menegaskan, kegiatan Launching CSIRT ini juga merupakan wujud nyata kolaborasi dan sinergi, karena sejatinya CSIRT tidak dapat berdiri sendiri dan membutuhkan partisipasi aktif semua pihak dalam menyelesaikan insiden secara cepat dan efektif.

“Kami optimis, melalui pembentukan CSIRT Organisasi pada sektor pemerintah dapat dibangun kemandirian berikut kesiapan dalam menghadapi ancaman insiden siber serta berkontribusi langsung dalam menjaga keamanan siber di Indonesia,” ujar Yoseph.

Lebih lanjut Yoseph menuturkan, Kemlu-CSIRT merupakan Tim Tanggap Insiden Keamanan Siber ke-14 yang di launching dari total 15 CSIRT yang dibentuk di pemerintah pusat dan daerah selama tahun 2020.

“Untuk itu, BSSN sebagai CSIRT Nasional akan memberi dukungan berupa peningkatan kemampuan melalui program pelatihan, workshop, cybersecurity drill, dan program-program lainnya untuk membekali para SDM CSIRT,” jelas Yoseph.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Kementerian Luar Negeri Cecep Herawan mengatakan pembentukan Kemlu-CSIRT merupakan bagian dari prioritas politik luar negeri RI selama 5 tahun ke depan (2019-2024) yang bertumpu pada prioritas 4+1, yakni penguatan pemanfaatan teknologi dan informatika serta transformasi digital.

“Seperti yang dikatakan ibu Menteri, tanpa transformasi digital, diplomasi Indonesia akan tertinggal oleh kemajuan era digital dewasa ini. Digitalisasi diplomasi akan meningkatkan efektifitas, kualitas dan interaksi dalam berbagai pelaksanaan prioritas diplomasi,” ungkap Cecep.

Untuk itu, lanjut Cecep, kami pun menyadari begitu pentingnya keberadaaan suatu tim atau pokja yang bertanggung jawab untuk menangani berbagai insiden keamanan siber yang mengancam Kementerian Luar Negeri.

“Kami berharap Kemlu-CSIRT dapat membangun, mengkoordinasikan, dan mengoperasionalkan sistem mitigasi, manajemen krisis, penanggulangan dan pemulihan terhadap insiden keamanan termasuk membangun sistem SDM di lingkungan Kementerian Luar Negeri, serta memberikan eksistensi bagi pembentukan CSIRT di perwakilan RI di luar negeri,” tuturnya.

Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat – BSSN

Biro Informasi dan Hukum Kemenko Kemaritiman dan Tim Komunikasi Pemerintah Kemkominfo

Infomed

Imbauan Keamanan Kerentanan Port Thunderbolt

Thunderbolt digadang-gadang sebagai teknologi port berperforma tinggi yang mampu menjembatani pemindahan data dengan ukuran yang cukup besar dalam waktu yang relatif lebih singkat. Thunderbolt juga mampu menghubungkan beberapa perangkat sekaligus dengan ukuran daya...

Rencana Strategis Badan Siber dan Sandi Negara Tahun 2018 – 2019

Perubahan paradigma menuju tata kelola pemerintahan yang baik telah mendorong pelaksanaan penerapan sistem akuntabilitas kinerja bagi penyelenggara negara, sebagai instrumen utama pertanggungjawaban pelaksanaan pemerintahan. Rencana Strategis (Renstra) merupakan salah...