Depok – BSSN.go.id (27/7). Era Revolusi Industry 4.0 menuntut pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) memahami dan menguasai teknologi informasi dan komunikasi. Pelaku UKM harus lihai mendigitalisasi layanan memanfaatkan platform online dalam mengembangkan usaha dan memasarkan produknya untuk dapat bersaing dengan pengusaha dari seluruh dunia.

“Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah menyatakan 3,79 juta UKM sudah memanfaatkan platform online dalam memasarkan produknya,” ujar Deputi Bidang Proteksi Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Akhmad Toha, dari ruang kerjanya di Kantor BSSN Sawangan Depok saat membuka webinar Bimtek OnlineBatch I bertema “Penerapan Keamanan Informasi E-Commerce bagi Pelaku UKM” yang diikuti 100 peserta yang digelar pada hari Senin (27/7/2020).

Dalam sambutannya Akhmad Toha mengatakan, “Pemerintah melalui kementerian terkait mendorong pelaku UKM di Indonesia untuk Go Digital melalui program UKM Go Online dengan cara memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk mengembangkan potensi bisnisnya, namun di sisi lain tantangan yang dihadapi oleh pelaku UKM ketika mulai go digital tidak hanya terkait pemasara tetapi juga terkait dengan ancaman serangan siber.”

“Menurut Verizon 2019 Data Breach Investigations Report, 43% dari serangan siber menarget UKM dab hanya 14% UKM yang sudah mempersiapkan diri menghadapi ancaman tersebut,” ujar Toha.

Dalam kesempatan yang sama, Kasubdit Proteksi Informasi Perdagangan Berbasis Elektronik BSSN, Baderi, mengatakan “Indonesia merupakan pasar terbesar e-commerce di Asia Tenggara.”

“Data Euromonitor tahun 2014 menyatakan nilai penjualan online Indonesia mencapai US$ 1,1 Miliar. Nilai tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan nilai penjualan online Thailand dan Singapura. Euromonitormemperkirakan rata-rata pertumbuhan tahunan penjualan online Indonesia selama 2024-2017 mencapai 38%,” tambah Baderi.

“Di Asia Tenggara Indonesia memimpin dengan pertumbuhan e-commerce sebesar 78% pada 2018, hal tersebut dipengaruhi oleh jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 260 juta jiwa. Bisa diperkirakan nilainya bila sekitar 50% dari penduruk Indonesia melakukan perdagangan secara elektronik, tentu sudah akan membuat nilai penjualan Indonesia sangat besar,” jelas Baderi.

“Namun sayangnya nilai penjualan yang sangat besar itulah yang menjadi faktor penarik actor jahat melakukan serangan siber menargetkan UKM. Untuk menghindari insiden siber tersebut, sejak dini pelaku UKM yang sudah menggunakan media online dalam menjalankan bisnisnya perlu dibekali dengan pemahaman dan praktik keamanan informasi/siber.”

Baderi kemudian memberikan lima tips panduan singkat dan praktis terkait keamanan informasi bagi pelaku UKM Go Online.

“Tips yang pertama, lindungi semua perangkat dari virus, spyware dan kode berbahaya lainnya dengan cara menginstal antivirus dan memperbaharuinya secara teratur.”

“Kedua, hindari menggunakan jaringan internet hotspot Wi-Fi publik.”

“Ketiga, gunakan kata sandi yang kuat dan perbaharui secara periodik.”

“Keempat, Buat data cadangan seluruh informasi penting perusahaan Anda secara berkala menggunakan media yang terpisah jika perlu tambahkan juga backup di layanan cloud untuk memastikan backup tersebut dapat di-restore.”

“Kelima, pastikan perangkat Anda ter-update keamanannya dengan melakukan pembaruan keamanan secara teratur.”

Pengolah Data Keamanan Siber BSSN Eko Tulus dalam kesempatan tersebut berharap masyarakat memiliki pengetahuan tentang keamanan informasi. “BSSN telah melakukan berbagai terobosan untuk membangun security awareness dan memberikan bimbingan teknis kepada masyarakat.”

“Diperlukannya solusi cerdas yang dapat digunakan seluruh lapisan masyarakat secara efektif menunjang keamanan siber aktifitas mereka namun murah, mudah dan mandiri bisa dilakukan, terutama bagi pelaku UKM,” tambah Eko.

“BSSN telah menyusun Panduan Mandiri Keamanan Informasi (Paman Kami) yang bisa dimanfaatkan oleh pelaku UKM. Paman Kami merupakan tools penilaian mandiri keamanan informasi yang berfokus pada 25 langkah keamanan informasi,” ujar Eko.

“Paman Kami dapat digunakan sebagai mekanisme awal mengukur tingkat keamanan informasi sistem informasi yang dimiliki pelaku UKM. Diharapkan secara bertahap pelaku UKM dapat memenuhi seluruh tahapan keamanan informasi sehingga risiko keamanan dapat diminimalisir sehingga pelaku UKM dapat membangun dan mengembangkan usahanya dengan lancar dan aman dari serangan siber.” tutup Eko.

Menutup webinar batch I, Akhmad Toha menyatakan bimtek diselenggarakan untuk memberikan bekal pengetahuan kepada pelaku UKM tentang cara menjaga keamanan informasi dalam menjalankan bisnisnya. Akhmad Toha berharap nantinya keamanan siber sektor e-commerce dapat mendukung keamanan nasional dan meningkatan pertumbuhan ekonomi nasional.

Bagian Komunikasi Publik, Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat – BSSN

Kapasitas Mandiri Organisasi Modal Pertama Hadapi Serangan Siber

Jakarta - BSSN.go.id (6/8). Terkait dengan keamanan siber, Direktur Proteksi Ekonomi Digital Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Anton Setiyawan dalam diskusi dalam jaringan Cyber Security Workshop bertema “Data Protection and Data Regulations in Indonesia” yang...

Imbauan Keamanan Kerentanan Port Thunderbolt

Thunderbolt digadang-gadang sebagai teknologi port berperforma tinggi yang mampu menjembatani pemindahan data dengan ukuran yang cukup besar dalam waktu yang relatif lebih singkat. Thunderbolt juga mampu menghubungkan beberapa perangkat sekaligus dengan ukuran daya...

Rencana Strategis Badan Siber dan Sandi Negara Tahun 2018 – 2019

Perubahan paradigma menuju tata kelola pemerintahan yang baik telah mendorong pelaksanaan penerapan sistem akuntabilitas kinerja bagi penyelenggara negara, sebagai instrumen utama pertanggungjawaban pelaksanaan pemerintahan. Rencana Strategis (Renstra) merupakan salah...