Jakarta, BSSN.go.id – Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) dan Ombudsman RI meresmikan Ombudsman Computer Security Incident Response Team (CSIRT) di Royal Kuningan Hotel Jakarta, Kamis (24/6).

Acara dihadiri oleh Kepala BSSN Hinsa Siburian, Ketua Ombudsman RI Mokhammad Najih, Wakil Ketua Ombudsman RI  Bobby Hamzar Rafinus, Plh.Sekretaris Jenderal Ombudman RI Arman dan Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Teknologi Informasi Ombudsman RI Wanton Sidauruk, Deputi Bidang Penangulangan dan Pemulihan BSSN Yoseph Puguh Eko Setiawan, dan Direktur Penanggulangan dan Pemulihan Ekonomi Digital BSSN Hasto Prastowo.

Hinsa menyatakan koneksivitas tinggi era digital membawa masyarakat bertransformasi dalam ruang siberyang terbentuk dari beragam sistem elektronik berbasi internet. Ranah siber menyebabkan perubahan besar yang membuka peluang bagi semua pihak termasuk bagi Sektor Pemerintahan, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Infrastruktur Informasi Vital selain bagi masyarakat.

Hinsa juga menyatakan dibalik pemenuhan kesejahteraan yang ada di ruang siber juga terdapat potensi ancaman, baik bersifat teknis maupun bersifat sosial. Serangan siber terus mengalami peningkatan, mulai dari ransomware hingga data leaks seperti misalnya indikasi kebocoran data yang baru saja terkait data BPJS Kesehatan.

“Sektor yang mengalami kasus kebocoran data terbanyak akibat malware pencuri informasi adalah sektor pemerintah, keuangan, penegakan hukum, telekomunikasi dan transportasi. Belum lama ini terdapat indikasi kasus kebocoran data pada BPJS Kesehatan yang saat ini sedang ditangani bersama oleh BSSN, Polri, Kominfo, BPJS dan berbagai pihak pihak terkait lainnya,” kata Hinsa saat memberikan sambutan pada launching Ombudsman-CSIRT.

Keamanan telah siber menjadi isu strategis di berbagai negara, termasuk Indonesia. Hal ini seiring dengan kemajuan di bidang teknologi informasi dan komunikasi.

Menghadapi perang siber tersebut, BSSN tengah membangun kekuatan siber, salah satunya dengan membentuk Computer Security Incident Response Team (CSIRT) sebagai salah satu pelaksana keamanan siber di Indonesia. CSIRT merupakan organisasi atau tim yang bertanggung jawab untuk menerima, meninjau, dan menanggapi laporan dan aktivitas insiden keamanan siber.

Pembentukan CSIRT sendiri sejalan dengan penerapan Sistem Pemerintah Berbasis Elektronik (SPBE). Dalam Peraturan Presiden Nomor 95 Tahun 2018 tentang SPBE, disebutkan bahwa bagian unsur keamanan SPBE yaitu penjaminan keutuhan dan ketersediaan data dan informasi. Di sinilah peran CSIRT sebagai penyediaan pemulihan dari insiden keamanan siber.

Pemerintah dan BSSN akan membentuk 121 CSIRT selama kurang lebih 5 tahun kedepan sebagai salah satu proyek prioritas strategis.

“Peraturan Presiden Nomor 18 Tahun 2020 tentang RPJMN 2020-2024 telah mengamanatkan kegiatan pembentukan 121 CSIRT sebagai salah satu proyek prioritas strategis (major project). Pada tahun 2021 ini, akan dibentuk sebanyak 35 CSIRT yang tersebar di Kementerian, Lembaga, dan Daerah. Pada tahun sebelumnya, yakni tahun 2020, telah berhasil dibentuk sebanyak 15 CSIRT,” ujar Hinsa lagi.

Ombudsman-CSIRT dapat terus berkolaborasi, bersinergi, dan berbagi informasi dengan seluruh stakeholderkeamanan siber, terutama dalam melakukan penanggulangan dan pemulihan insiden keamanan siber.

“Saya berharap Ombudsman-CSIRT dapat terus berkolaborasi, bersinergi, dan berbagi informasi dengan seluruh stakeholder keamanan siber, terutama dalam melakukan penanggulangan dan pemulihan insiden keamanan siber sehingga Indonesia dapat memiliki visibilitas yang menyeluruh terhadap aset siber,” tutup Hinsa.

Pada kesempatan tersebut Najih menyampaikan bahwa peluncuran ini merupakan awal dari terbentuknya tim tanggap insiden siber di Ombudsman RI yang diharapkan akan dapat membangun kemandirian dan kesiapan dalam menghadapi ancaman insiden siber dan berkontribusi langsung dalam menjaga keamanan siber di Indonesia.

Selain langkah awal dari tim tanggap insiden siber di lingkungan Ombudsman RI juga  merupakan upaya dalam mendukung keamanan data di sistem Sistem Informasi Manajemen Penyelesaian (SIMPel).

“Di samping itu, kegiatan ini salah satunya merupakan upaya mendukung keamanan data Ombudsman RIdalam aplikasi Laporan SIMPeL dan Pusat Data dan Informasi Ombudsman RI,” kata Najih.

Di dalam era yang sekarang ini tidak ada sistem keamanan yang 100 persen aman dari peretasan. Kolaborasi dan sinergi merupakan upaya paling baik untuk memangani ancaman peretasan dan gangguan sistem keamanan.

“CSIRT-Ombudsman merupakan ikhtiar nyata bersama bahwa kami peduli dengan keamanan data. Keamanan siber yang terjaga baik bisa membuat pelayanan publik menjadi lebih terpercaya,” tutup Najih. (Yo/Yud)

Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat – BSSN

Sudah Selektifkah Anda dalam Memilih Penyedia Jasa Internet?

Depok, BSSN.go,id - Perkembangan teknologi informasi dan telekomunikasi yang begitu pesat membuat internet menjadi kebutuhan yang tidak terpisahkan dengan aktivitas keseharian kita. Secara bertahap kita mulai mendigitalisasi berbagai hal dalam kehidupan. Covid-19 yang...

Waspada Dampak Buruk Gadget pada Anak

Gadget seolah tak bisa dilepaskan dari kehidupan anak-anak yang lahir di zaman milenial saat ini. Padahal, potensi gadget merusak otak anak bisa terjadi jika anak dibiarkan terlalu lama menatap layar gadget tersebut. Istilah terhadap perilaku kecanduan gadget adalah...

Tips Memulai Bisnis untuk Penyandang Disabilitas

Memulai sebuah bisnis bukanlah sebuah hal mudah, hal tersebut berlaku bagi siapapun, terutama para penyandang disabilitas yang cenderung memiliki mental breakdown lebih tinggi karena kondisi yang dialami. Semua orang pada dasarnya, tidak terpaku pada keterbatasan...