Depok, bssn.go.id– Badan Siber dan Sandi Negara dalam hal ini  Pusat Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Keamanan Siber dan Sandi melakukan penandatanganan kerjasama dengan Fakultas Teknik Universitas Indonesia di gedung Fakultas Teknik, Universitas Indonesia, Depok, Jumat (11/6).

Acara yang diawali dengan sambutan dari Dekan Fakultas Teknik, Universitas Indonesia, Hendri D.S. Budiono, menyampaikan terima kasihnya kepada BSSN.

“Terima kasih atas kepercayaan BSSN kepada Fakultas Teknik Universitas Indonesia untuk melaksanakan kerjasama ini, dan selanjutnya diharapkan FTUI dan BSSN dapat duduk bersama-sama membuat suatu aktivitas yang bermanfaat dalam pengembangan teknologi” ungkap Hendri, saat membuka acara tersebut.

Pun, demikian yang disampailan Kepala Pusat Pengkajian dan Pengembangan Tekonologi Keamanan Siber dan Sandi BSSN, Anton Setiawan. Lebih lanjut Anton menyampaikan tujuan dilakukan kerjasama ini.

“Penandatanganan kerja sama ini terkait penelitian untuk menghasilkan alat keamanan untuk kepentingan strategis,” ungkap Anton.

Pada kesempatan yang sama, Anton juga menyampaikan acuan saat ini pada Global Cybersecurity Indeks (GCI) oleh International Telecommunication Union (ITU), yang dilaksanakan secara Voluntary, dan salah satu faktor penilaian suatu negara pada GCI tersebut adalah faktor kemandirian dalam teknologi dan industri keamanan sibernya.

Ketika membangun industri tidak bisa dilakukan sendiri, dibutuhkan dari akademisi, industri dan dukungan kebijakan pemerintah.

“Salah satu tujuan PKS ini merupakan landasan untuk mengarah kesana, yakni untuk membangun teknologi yang baik agar dapat mencapai level keamanan yang tinggi bahkan sampai level ketahanan siber nasional yang tinggi, maka dari itu dibutuhkan kolaborasi antara akademisi, industri dan kebijakan pemerintah,” lanjut Anton. (Ra/Yud)

Forum BEC II dijadwalkan akan dibuka pada hari Rabu (10/5) oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla dengan didampingi oleh Menko Maritim Luhut Pandjaitan dan dihadiri oleh Sekjen IORA K.V. Bhagirath. Selain itu, pejabat yang juga hadir dalam BEC II antara lain Dirjen Asia, Pasifik dan Afrika (Aspasaf) Kementerian Luar Negeri, Dubes Rachmat Budiman, serta menteri-menteri dari negara-negara anggota IORA dan mitra wicara IORA di Jakarta.

IORA merupakan organisasi internasional yang terdiri dari negara-negara di kawasan Samudera Hindia dan didirikan pada tahun 1997. Ada 21 negara anggota IORA, yakni Australia, Comorros, Indonesia, Somalia, Kenya, Malaysia, Mozambique, Singapura, Srilanka, Thailand, Yaman, Bangladesh, India, Seychelles, Iran, Madagascar, Mauritius, Oman, Afrika Selatan, Tanzania, dan Uni Emirat Arab. Sedangkan Mitra Wicara IORA antara lain China, Perancis, Jepang, Amerika Serikat, Mesir dan Jerman.

Sudah Selektifkah Anda dalam Memilih Penyedia Jasa Internet?

Depok, BSSN.go,id - Perkembangan teknologi informasi dan telekomunikasi yang begitu pesat membuat internet menjadi kebutuhan yang tidak terpisahkan dengan aktivitas keseharian kita. Secara bertahap kita mulai mendigitalisasi berbagai hal dalam kehidupan. Covid-19 yang...

Waspada Dampak Buruk Gadget pada Anak

Gadget seolah tak bisa dilepaskan dari kehidupan anak-anak yang lahir di zaman milenial saat ini. Padahal, potensi gadget merusak otak anak bisa terjadi jika anak dibiarkan terlalu lama menatap layar gadget tersebut. Istilah terhadap perilaku kecanduan gadget adalah...

Tips Memulai Bisnis untuk Penyandang Disabilitas

Memulai sebuah bisnis bukanlah sebuah hal mudah, hal tersebut berlaku bagi siapapun, terutama para penyandang disabilitas yang cenderung memiliki mental breakdown lebih tinggi karena kondisi yang dialami. Semua orang pada dasarnya, tidak terpaku pada keterbatasan...