Jakarta, BSSN.go.id – Di tengah hingar-bingar marak proses transformasi digital bangsa Indonesia Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) berkomitmen memberikan literasi keamanan siber bagi masyarakat. Koordinator Fungsi Manajemen Risiko dan Pengukuran Tingkat Kematangan Keamanan Siber dan Sandi Sektor keuangan, Perdagangan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif BSSN Baderi menjadi narasumber webinar “When Security Becomes a High Priority” yang diselenggarakan Katadata, Rabu (12/01/2022).

Baderi menyatakan keamanan siber kini menjadi suatu isu yang sangat penting, tidak hanya di Indonesia namun juga di regional ASEAN dan bahkan dunia.

“Indonesia termasuk negara yang paling sering disasar aktivitas phishing. Indonesia juga menjadi negara yang paling banyak menjadi korban penyebaran malware,” ungkap Baderi.

Baderi menyarankan agar pelaku sektor perbankan dan masyarakat sebagai nasabah melakukan update aplikasi digital secara berkala untuk mengurangi potensi serangan siber tersebut.

Direktur Penelitian, Departemen Penelitian dan Pengaturan Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mohamad Miftah menyatakan pada tahun 2020 sektor keuangan khususnya perbankan menjadi sasaran paling tinggi sedangkan sektor manufaktur menjadi sasaran peringkat kedua.

“Serangan siber di Indonesia hingga September 2021 sudah meningkat hampir dua kali lipat dari tahun 2020,” ujar Miftah.

Miftah menyatakan OJK memiliki empat pilar penanggulangan serangan siber. Pertama, melakukan pengawasan aktif direksi dan dewan komisaris. Kedua, kecukupan kebijakan, standar, dan prosedur penggunaan. Ketiga, proses manajemen risiko terkait teknologi informasi (TI). Keempat, sistem pengendalian dan audit intern atas penyelenggaraan TI.

“OJK juga sudah mengeluarkan regulasi yang berkaitan dengan keamanan siber. Mulai dari ruang lingkup penyelenggaraan teknologi informasi, wewenang dan tanggung jawab terkait penyelenggaraan teknologi informasi.

Miftah menyatakan selain aturan pencegahan serangan siber, literasi dan edukasi pengguna layanan perbankan terkait bahaya serangan siber juga perlu ditingkatkan.

General Manager Divisi Keamanan Informasi BNI Andri Medina menyatakan  beberapa serangan siber yang dilakukan oleh phiser ialah melalui pembuatan domain palsu dengan menyebar link phising untuk mengarahkan korban membuka jebakan tersebut.

“Ada juga yang membuat akun palsu media sosial yang menyerupai akun asli yang mengaku seolah-olah admin suatu institusi. Apabila kurang waspada nasabah akan menjadi korban karena terjebak panduan tipu muslihat orang yang tidak bertanggung jawab,” kata Andri.

Biro Hukum dan Komunikasi Publik BSSN