Jakarta, BSSN.go.id – Badan Siber dan Sandi Negara Republik Indonesia (BSSN RI) meresmikan Tim Tanggap Insiden Keamanan Siber pada Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) di Jakarta, Selasa (25/5/2021).

Tim yang diberi nama BATAN-CSIRT ini mempunyai tugas melakukan penanggulangan, mitigasi, investigasi dan analisis dampak, serta pemulihan pasca insiden keamanan siber di Badan Tenaga Nuklir Nasional tersebut.

Kepala BSSN RI Hinsa Siburian mengatakan bahwa serangan siber menyasar Indonesia sepanjang tahun 2020 mencapai 495.337.202, naik tiga kali lipat dari tahun sebelumnya. Angka tersebut berdasarkan data dari Pusat Operasi Keamanan Siber Nasional Badan Siber dan Sandi Negara Republik Indonesia.

“Statistika itu perlu menjadi perhatian bagi kita semua, khususnya pengguna internet. Sebab, serangan siber tidak melulu hanya berkaitan pada perangkat keras atau perangkat lunak semata,” kata Hinsa dalam sambutannya.

Dijelaskannya lebih lanjut, serangan tersebut terbagi dalam dua sifat, yaitu serangan sosial dan teknis. Serangan sosial berupaya untuk mempengaruhi manusia melalui ruang siber dan cenderung berkaitan erat dengan perang politik, perang informasi, perang psikologi, dan propaganda.

Sedangkan, serangan teknis lebih ditujukan menyerang jaringan logika melalui berbagai metode untuk mendapatkan akses ilegal, mencuri informasi, atau memasukan malicious software (malware) yang bisa merusak jaringan fisik dan persona siber (pengguna internet).

“Jadi, baik serangan sosial maupun serangan teknis tergantung dari konteks bagaimana serangan tersebut dilakukan. Serangan siber dapat dikategorikan menjadi kriminal biasa, kriminal luar biasa, dan perang siber, bergantung dari tujuan dan intensitas serangan tersebut tanpa terbatas pada pembagian spektrum waktu dimasa damai, krisis, atau dalam keadaan perang,” jelas Hinsa.

Senada dengan hal tersebut, Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional Anhar Riza Antariksawan menuturkan, dalam menjalankan tugas dan fungsinya, BATAN sebagai lembaga penelitian, pengembangan, pengkajian, dan penerapan teknologi nuklir telah memanfaatkan kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), baik pada sistem pemantauan radiasi lingkungan maupun sistem informasi pendukung untuk manajerial.

Sehingga, pemanfaatan TIK selain memiliki berbagai keuntungan tentunya juga memiliki resiko kerentanan, seperti dimungkinkan adanya serangan siber.

“Untuk itulah, dalam rangka melindungi dan menjaga sistem informasi BATAN dari akses ilegal oleh orang yang tidak berhak dengan berbagai tindakan untuk mengganggu kerahasiaan, integritas dan ketersedian informasi, maka mulai tahun 2021 ini BATAN dipercaya oleh BSSN RI untuk membentuk Computer Security Incident Response Team (CSIRT) atau Tim Tanggap Insiden Keamanan Siber bersama dengan 26 kementerian, lembaga pusat dan daerah lainnya. Selanjutnya, tim cyber security BATAN yang sudah ada sebelumnya, dengan pelatihan dan pendampingan teknis dari BSSN RI kemudian bertransformasi menjadi BATAN-CSIRT,” ujar Anhar.

Kegiatan peresmian tersebut dilaksanakan secara online dan offline, dihadiri oleh Deputi Bidang Penanggulangan dan Pemulihan BSSN RI Yosep Puguh Eko Setiawan, Deputi Pendayagunaan Teknologi Nuklir BATAN Totti Tjiptosumirat dan Sekretaris Utama BATAN Agus Sumaryanto, beserta para pejabat dan staff dari kedua belah pihak. (Ri/Yud)

Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat – BSSN

Sudah Selektifkah Anda dalam Memilih Penyedia Jasa Internet?

Depok, BSSN.go,id - Perkembangan teknologi informasi dan telekomunikasi yang begitu pesat membuat internet menjadi kebutuhan yang tidak terpisahkan dengan aktivitas keseharian kita. Secara bertahap kita mulai mendigitalisasi berbagai hal dalam kehidupan. Covid-19 yang...

Waspada Dampak Buruk Gadget pada Anak

Gadget seolah tak bisa dilepaskan dari kehidupan anak-anak yang lahir di zaman milenial saat ini. Padahal, potensi gadget merusak otak anak bisa terjadi jika anak dibiarkan terlalu lama menatap layar gadget tersebut. Istilah terhadap perilaku kecanduan gadget adalah...

Tips Memulai Bisnis untuk Penyandang Disabilitas

Memulai sebuah bisnis bukanlah sebuah hal mudah, hal tersebut berlaku bagi siapapun, terutama para penyandang disabilitas yang cenderung memiliki mental breakdown lebih tinggi karena kondisi yang dialami. Semua orang pada dasarnya, tidak terpaku pada keterbatasan...