Jakarta, Badan Siber Dan Sandi Negara bersama Cyberthreat.id menggelar diskusi publik berikut buka puasa bersama dengan para awak media (27/5).

Diskusi hangat itu mengangkat tema Pentingnya Perlindungan Data Pribadi Untuk Konsumen, dengan menghadirkan narasumber Anton Setiyawan selaku Direktur Proteksi Ekonomi Digital Badan Siber Dan Sandi Negara, Ruby Alamsyah sebagai Pengamat Teknologi dan Ahli Cyber Forensic, dan Sudaryatmo mewakili Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia.

Acara tersebut dibuka dengan sambutan dari Kepala Badan Siber Dan Sandi Negara, Hinsa Siburian. “Selain ada tri matra yaitu darat, laut dan udara, juga ada matra cyber, disitu dua tugas pokok kami dalam menjaga keamanan negara. Karena banyak hal yang bisa terjadi disitu, dan juga bagaimana memanfaatkan ruang tersebut untuk kesejahteraan masyarakat, khususnya dalam bidang ekonomi. Untuk memikul tugas besar itu Badan Siber Dan Sandi Negara tidak mungkin sendiri, tapi perlu adanya sinergisitas dan masukan-masukan dari banyak pihak, terutama output dari Forum Cyber Corner yang diselenggarakan ini agar ke depannya BSSN dapat lebih berkembang dan berkelas dunia,” ujar Hinsa dalam salah satu sambutannya.

Usai Kepala BSSN memberikan sambutan, moderator kemudian memanggil dan memperkenalkan para narasumber dalam diskusi itu secara satu-persatu.

Mengawali diskusi itu, Jubir BSSN, Anton Setiyawan memaparkan tentang data pribadi yang bersifat umum dan spesifik. Untuk yang bersifat umum data pribadi yang didapat dari layanan-layanan publik seperti rumah sakit dan lain-lain. Sedangkan bersifat spesifik adalah data pribadi yang dihasilkan dari suatu proses tertentu, seperti contoh rekam medis yang diambil rumah sakit untuk tujuan kesehatan sebagai pengendali data pribadi, kemudian di simpan pada prosesor data pribadi sebagai pihak ketiga. Misalnya, anda sebagai e-commerce di salah satu website jual-beli umum, maka data anda akan di simpan dalam data centre, yang kemudian itu disebut prosesor data pribadi, yang mendapatkan amanat dari pengendali data pribadi untuk memproses data tersebut. Dan hal ini juga nantinya akan menjadi pemprosesan data pribadi yang meliput perolehan dan pengumpulan, pengolahan dan penganalisaan, penyimpanan, perbaikan dan pembaharuan, penampilan, pengumuman, transfer, penyerbarluasan atau pengungkapan serta penghapusan atau pemusnahan.

“Dari langkah itulah data yang ada pada kita, apabila kita bicara perolehan, berarti hak pertama yang ada pada kita apabila data kita diambil tanpa persetujuan itu melanggar hukum. Kemudian pengolaan, si pengambil harus mempunyai sistem yang terpercaya, seperti harus menerapkan standar atau acuan yang jelas terhadap pengelolaan data pribadi,” jelas Anton.

Menanggapi hal itu, Ruby Alamsyah mengatakan data-data yang mudah bocor dan sering terpublikasi di internasional seperti di perbankan, e-commerce, dan telko, karena masih lemahnya anti security awareness di masyarakat lantaran kurang familiarnya tentang definisi apa saja data pribadi dan pengamanan, dan sering terlihat masyarakat menggunakan akun dan password yang mirip atau sama. (rm/iw/rh)

Bagian Komunikasi Publik

Biro Hukum dan Humas

BSSN Selenggarakan Training Malware dan Incident Handling

Jakarta, BSSN.go.id - Pada industri 4.0, teknologi manufaktur sudah masuk pada tren otomatisasi dan pertukaran data. Hal tersebut mencakup sistem cyber-fisik, internet of things (IoT), komputasi awan, dan komputasi kognitif. Tren ini telah mengubah banyak bidang...

Kepala BSSN Melantik Mahasiswa Baru STSN

Jakarta, BSSN.go.id - Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Republik Indonesia Hinsa Siburian melantik mahasiswa-mahasiswi Sekolah Tinggi Sandi Negara (STSN) Tahun Akademik 2019-2020, Selasa (17/9).Berdasarkan pantauan Tim Humas BSSN di Lapangan Upacara STSN,...

Kepala BSSN pada acara Tamu Khusus TVOne

Wawancara ekslusif Kepala Badan Siber dan Sandi Negara dengan TVOne pada acara Tamu Khusus yang ditayangkan pada hari Minggu, 7 Januari 2018. Berita Terbaru Panduan

Share This