HERITAGE MUSEUM SANDI

RUMAH SANDI

Pukul 05.45 tanggal 19 Desember 1948, pasukan Belanda menghujani lapangan udara Maguwo dengan bom dan metraliur. Letnan Kolonel Roebiono Kertopati segera memerintahkan agar para CDO (Code Officeren/ perwira sandi) mengevakuasi diri dan  dokumen penting bersama mereka dari pusat kota Yogyakarta, begitu juga operasional Dinas Kode yang harus memindahkan kantor mereka yang berada di Jalan Batanawarsa No 32, Yogyakarta. Beberapa CDO berjalan ke barat menuju Kulonprogo.

Di salah satu rumah yang ada Dusun Dukuh, Desa Purwoharjo, Samigaluh, Kulonprogo inilah Letnan Muda Soedijatmo dan Letnan Satu Sumarkidjo bermarkas setelah sebelumnya berkumpul dengan pejuang lainnya di Dekso. dr. Roebiono Kertopati sendiri setelah menyusul sampai Dekso kemudian melanjutkan perjalanan ke wilayah Jawa Barat.

Desa ini dipilih karena sangat strategis dengan perisai sungai Progo di timur, dan sungai Bogowonto di barat. Mereka menemukan sebuah rumah yang aman untuk bersembunyi dari Belanda. Di rumah ini, CDO melakukan semua kegiatan pengkodean, termasuk berkomunikasi melalui radio rimbu (rimbu radio).

Rumah ini juga digunakan untuk mengumpulkan informasi / berita dari dalam dan luar negeri. Selama Agresi Militer Belanda II, rumah sederhana yang merupakan milik keluarga Mertosetomo menjadi saksi perjuangan para perwira sandi untuk tetap berupaya menjaga hubungan komunikasi dan informasi sebagai urat nadi perjuangan. Rumah ini sekaligus menjadi pos pemeriksaan ke-2 bagi setiap orang yang akan
menemui Wakil Kepala Staf Angkatan Perang II Kolonel Tahi Bonar Simatupang yang secara kebetulan bermarkas di Banaran yang berjarak 3 km dari Dukuh. Masyarakat Dukuh termasuk keluarga Mertosetomo memberikan dukungan perjuangan para CDO selama berada di wilayah ini, tak terkecuali anak dari Pak Merto, yaitu Ponidjan yang menjadi kurir penyampai pesan ke beberapa tempat di Samigaluh dan sekitarnya.

Sejak tahun 1996, setiap dilakukan kegiatan napak tilas persandian selalu mengunjungi rumah ini. Kemudian pada tahun 2014 rumah ini direnovasi oleh Lembaga Sandi Negara sebagai sebuah monumen perjuangan dengan nama Rumah Sandi Dukuh.

MONUMEN SANAPATI

Monumen Sanapati dibangun untuk memeringati 50 tahun persandian Indonesia di Yogyakarta. Persandian di Yogyakarta memiliki andil yang besar dalam mempertahankan kemerdekaan Negara Indonesia. Tercatat pada peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949, sandi buatan Roebiono masih digunakan untuk menyebarkan pesan pada dunia bahwa Indonesia masih ada dan masih bisa melawan. Selanjutnya, peristiwa tersebut dikenal dengan Peristiwa 6 jam di Yogyakarta.

Monumen Sanapati terletak di kawasan Kotabaru, tepatnya di tengah persimpangan Jalan Abu Bakar Ali, di taman depan Gereja Santo Antonius. Bangunan Monumen Sanapati berbentuk segitiga berujung lancip menyerupai piramida dengan tinggi 3 meter dan lebar 2,5 meter. Monumen tersebut didesain oleh Drs Kasman dan diresmikan oleh Menteri Sekretaris Negara Republik Indonesia saat itu, Moerdiono, pada 4 April 1996, tepat pada Hari Persandian Indonesia.

Biro Hukum dan Komunikasi Publik BSSN